Inilah cara membina mental Evan Dimas CS

Kematangan mental yang ditunjukkan Timnas Indonesia U-19 tidak muncul begitu saja. Pelatih Indra Sjafri menanamkan banyak hal kepada skuad juara AFF U-19 itu.

Mungkin terlalu dini, namun banyak yang menilai skuad U-19 saat ini sebagai generasi emas Indonesia. Selain kematangan teknik, satu hal yang menonjol dan belum terlihat dari para seniornya adalah kematangan mental.

Dalam sebuah pertandingan, skil dan teknik saja tidak cukup. Pada fase-fase menentukan seperti partai final, kematangan mental kerap lebih menentukan dibandingkan kesiapan teknik.

Sebelumnya, baik di level senior dan U-23, Skuad Garuda kerap takluk di partai final, terutama lewat adu penalti. Namun tekanan mental tak mampu membendung langkah skuad U-19. Mereka mampu meraih gelar juara AFF U-19 dengan mengalahkan Vietnam lewat adu penalti di final. Evan Dimas dkk juga berhasil mengalahkan tim raksasa Korea Selatan saat laga hidup mati dalam kualifikasi Piala AFC U-19 akhir pekan lalu.

Kematangan mental semacam itu tidak didapat dengan cuma-cuma. Pelatih Indra Sjafri tahu betul pentingnya kematangan mental dalam sebuah kompetisi. Banyak hal yang digunakan sang pelatih untuk memupuk kematangan mental. Mulai dari pendekatan teknik, agama hingga melibatkan orang tua.

“Saya punya pelatih mental sendiri. Anak-anak juga mendapatkan bimbingan ESQ (kecerdasan emosi dan spiritual),” ujar Indra membeberkan rahasia kematangan mental timnya.

Selain itu, pelatih asal Padang tersebut juga menekankan pentingnya peraturan pertandingan. Ia memberikan contoh kasus saat Indonesia dihukum penalti pada laga melawan Korsel di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Penalti itu membuat Korsel menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Namun asa Garuda Muda tak padam dan berhasil meraih kemenangan 3-2.

“Saya ajarkan peraturan pertandingan, bahwa kalau wasit sudah meniup peluit, ya sudah. (Saat insiden penalti lawan Korsel) mereka tidak melakukan protes yang berlebihan. Mereka terus bermain lepas. Itu yang terpenting.”

“Kalau mereka bisa menikmati pertandingan, merasa didoakan oleh orang tua, mereka akan bermain lepas,” ia menambahkan.

Hal lain yang diharamkan pelatih adalah besar kepala. Indra secara langsung menunjukkan sikapnya itu kepada Evan Dimas. Salah satu pemainnya yang paling bersinar saat ini.

“Saya katakan langsung kepada Evan Dimas ‘jangan anggap posisi kamu aman. Kalau ada yang lebih baik pasti kamu digeser. Kamu di sini karena belum ada yang lebih baik dari kamu’. Soalnya, kalau pemain sudah merasa mahabintang, selesai sudah,” Indra menjelaskan.

Meski sangat fokus dalam membina pemainnya menjadi pesepak bola yang bagus. Indra juga menyadari betul kebutuhan para pemain mudanya akan pendidikan. Karenanya, ia sudah merancang jadwal home schooling atau ‘sekolah privat’.

“Itu tetap harus diperhatikan. Apalagi sebentar lagi kan memasuki ujian akhir,” kata mantan kepala Kantor Pos di Sumatera Barat itu.

Hal lain yang dilakukan Indra adalah menularkan kepercayaan diri kepada pemainnya. Saat berinteraksi dengan wartawan, Indra bisa dideskripsikan sebagai sosok yang ramah, kalem, tetapi sekaligus tegas dan percaya diri. Ketegasan dan kepercayadirian itu tercermin dalam setiap jawabannya seputar timnya.

Sebelum lawan Korsel, ia dengan tegas mengatakan tim asal Negeri Ginseng itu bisa ditaklukkan. Ia juga tak segan menilai kualitas Malaysia di bawah Indonesia, sehingga tak perlu dijadikan sparring partner.

“Tidak perlu anak-anak ini kita ikutkan kompetisi di Singapura atau Malaysia. Kita ingin secara rutin bertemu lawan tanding yang lebih tinggi levelnya. Itu yang sedang saya ajukan kepada Badan Tim Nasional (BTN),” katanya menjawab kemungkinan skuadnya disertakan dalam kompetisi di negeri tetangga.

Terakhir, ia optimistis skuad U-19 lolos ke Piala Dunia U-20 tahun 2015 mendatang. Syaratnya, mampu menembus semifinal Piala AFC U-19 2014 di Myanmar, Oktober tahun depan.

“Cita-cita para pemain ini cuma satu: lolos ke Piala Dunia. Dan kita punya peluang untuk itu,” katanya mantap.

Indra, meski mengantongi sertifikat pelatihan lisensi A AFC dan Futuro dari FIFA, belum sekalipun membesut klub profesional. Ia lebih suka berkecimpung di kelompok umur.

Ia pernah mengantar skuad U-17 juara turnamen HKFA U-17 pada 2012 dan skuad U-18 menjuarai turnamen HKFA U-18 setahun berikutnya. Setelah itu, ia meraih gelar yang lebih bergengsi bersama skuad U-19 di AFF serta lolos ke Piala AFC U-19.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s