Liga Desa Indonesia (LIDI) : Dari Desa Menuju Senayan

Jakarta – Indonesia punya potensi sepak bola yang besar. Namun luasnya wilayah Republik Indonesia membuat banyak dari bakat-bakat tersebut tidak terpantau dan tidak mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi.

Sebentar lagi, Badan Sepak bola Rakyat Indonesia (BASRI) akan menggelar kompetisi antarkampung bertaraf nasional bernama LIDI (Liga Desa Indonesia). Ini adalah kompetisi untuk tim tingkat desa atau kelurahan dengan cakupan nasional.

LIDI, yang punya slogan ‘Dari Kampung Menuju Senayan’, akan mengumpulkan klub-klub yang ada di desa dalam satu wadah kompetisi berjenjang. Kompetisi digelar antarwilayah, mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional.

“Event ini akan di-launching pada Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) BASRI di Twin Hotel, Jakarta, 15-16 November mendatang,” kata sekretaris jenderal BASRI, Maxi Hayer.

“Tujuannya untuk melihat bibit-bibit yang tidak terpantau, yang tidak mendapat kesempatan masuk sekolah-sekolah sepak bola. Lewat LIDI, Indonesia bisa melihat bahwa kita punya bibit-bibit yang luar biasa,” Maxi menambahkan.

LIDI juga akan memilih pemain-pemain terbaik yang akan dikumpulkan dalam satu tim. Mereka kemudian akan dikirim berlatih di luar negeri.

“Kita belum tentukan. Tapi dari Asia mungkin Jepang dan Korea (Selatan), kalau Eropa ada Belanda dan Italia. Hal itu akan dibahas pada Rakornas nanti,” katanya.

Secara detail, teknis kompetisi belum diputuskan secara resmi. Namun Maxi menjelaskan bahwa BASRI terus berkomunikasi dengan PSSI dalam menyusun regulasi serta wasit yang akan digunakan. Untuk regulasi, BASRI akan merujuk pada standar FIFA.

Sementara itu untuk wasit, BASRI akan menggunakan wasit-wasit PSSI bersertifikat C3 hingga C1.

“Regulasi LIDI sudah kita desain. Pengurus BASRI sudah melakukan rapat internal. Menyusun regulasi dan perangkatnya. Kita akan undang perwakilan-perwakilan desa dari seluruh provinsi,” katanya.

Rakornas nanti juga akan menentukan jumlah klub yang akan berpartisipasi serta rentang usia pesertanya.

“Secara kasar pesertanya mencapai 21 ribu klub. Untuk rentang usia sebenarnya kita ingin pada kisaran 17-25 tahun, tetapi itu akan tergantung pada hasil rapat dengan perwakilan desa. Sebab, tidak semua desa punya pemain usia muda. Banyak anak-anak muda di daerah yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan.”

“Kita akan membahas hal itu pada tanggal 15 November (Rakornas). Sedangkan kick offrencananya serentak dilakukan pada Januari 2014,” kata Maxi.

Satu kendala yang mungkin akan dihadapi LIDI pada musim perdananya adalah digelarnya Pemilihan Umum 2014.

“Kita akan berkoordinasi dengan pemerintah. Kerjasama dengan pemerintah selalu nomor satu, pemerintah provinsi, pemerintah daerah dinas olahraga, dan sebagainya,” ia menjelaskan.

sumber

3 thoughts on “Liga Desa Indonesia (LIDI) : Dari Desa Menuju Senayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s