Potret Kehidupan Guru Di Negeriku

Terpujilah wahai engkau Ibu-Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa…

(Lagu: Hymne Guru)

Pada tanggal 25 Nopember kita kembali memperingati Hari Guru sekaligus Hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Tentulah sangat elok, bila momentum Hari Guru ini dijadikan sebagai tonggak untuk kembali menelaah potret guru-guru kita. Barangkali sebagian dari kita akan bertanya, apa gunanya? Guru adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Walaupun banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan pendidikan sebuah bangsa, namun tak dapat ditolak kenyataan bahwa guru-lah faktor terpenting. Guru adalah aktor utama yang langsung bersentuhan dengan subyek pendidikan: siswa. Merekalah para pelecut kecerdasan siswa. Tak akan banyak siswa cerdas yang dihasilkan institusi pendidikan, bila guru-guru yang setiap hari membimbing proses belajar mereka tidak memiliki kualitas yang memadai.

Syair lagu Hymne Guru di atas adalah gambaran betapa mulianya profesi guru. Tapi masih ingatkah Anda siapa penciptanya? Mudah-mudahan masih ingat, karena penciptanya adalah seorang guru yang nasibnya barangkali jauh lebih jelek dari Anda (bila Anda seorang guru) saat ini. Sekedar berbagi informasi saja, pencipta lagu tersebut bernama Sartono, seorang guru kesenian yang berasal dari Madiun yang tinggal di sebuah rumah kecil berdinding tripleks. Hymne Guru adalah lagu yang selalu dikumandangkan pada setiap peringatan Hari Guru atau Hari PGRI yang jatuh pada setiap tanggal 25 Nopember. Sartono memenangi Lomba Cipta Lagu Guru pada tahun 1980 dengan lagu tersebut setelah berhasil menyisihkan sekitar 300 peserta lainnya. Saat itu depdikbud (kini depdiknas) masih dipimpin oleh Mendikbud Daoed Joesoef. Hingga akhir masa tugasnya, Sartono hanya seorang guru tidak tetap (GTT) tanpa tunjangan pensiun di hari tua. Pun tahukah Anda? Ternyata, hadiah sebagi Juara I penulisan lagu tersebut disunat oleh oknum yang tak diketahuinya, hingga nominal yang seharusnya diterima sebanyak Rp. 1.000.000,- sampai ke tangan beliau hanya tinggal Rp. 750.000,- (Sumber:http://www.gatra.com).

Berbagai permasalahan tentang guru di Indonesia masih bagai benang kusut yang sukar dicari cara untuk menguraikannya. Sepenggal ilustrasi tentang pencipta lagu Hymne Guru di atas mungkin cukup bagus untuk mendedahkan potret seorang guru yang punya prestasi tapi belum mendapatkan penghargaan selayaknya dari birokrasi. Bukankah seharusnya salah satu peran birokrasi bagi dunia pendidikan kita adalah sebagai motivator untuk membangkitkan kecerdasan dan kreativitas guru? Di sisi lain, kita juga melihat banyaknya pemasalahan yang akarnya berpangkal dari guru sendiri. Misalnya, banyaknya guru yang belum kompeten. Banyak sekali guru yang mengajar tidak sesuai bidang kajian ilmu yang dimilikinya, kualifikasi pendidikan yang masih rendah: di mana banyak guru kita di pelosok hanya berpendidikan setingkat SMA bahkan SMP sehingga sama sekali tak memiliki keahlian profesi guru. Mereka sama sekali tidak memiliki kompetensi pedagogik maupun kompetensi akademik sebagai syarat penting yang harus dipunyai oleh seorang pendidik.

Saat ini, kebanyakan orang muda beranggapan bahwa profesi guru adalah profesi pilihan urutan kesekian setelah pilihan profesi-profesi lain. Sementara itu rendahnya daya serap angkatan kerja membuat tingginya jumlah penggangguran berijazah. Permasalahan ini seringkali menyebabkan banyak para penganggur yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan guru tersebut akhirnya terpaksa memasuki wilayah profesi ini (guru). Kenyataan bahwa banyak sekolah memang masih kekurangan guru, membuat para penganggur dari bidang-bidang lain yang jelas-jelas tidak kompeten ini dapat ikut memasuki area bidang pendidikan. Mereka akhirnya ikut menambah buruk wajah dunia pendidikan Indonesia.

Rendahnya gaji guru juga menyulitkan guru bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya. Sudah bukan hal yang aneh lagi bila banyak guru harus merelakan waktu istirahatnya untuk bekerja di sektor informal untuk menambah penghasilan. Menambah gaji sebulan yang tak cukup untuk sebulan. Banyak guru bekerja sambilan sebagai tukang ojek, tukang pulsa, tukang servis elektronik, pedagang, penjahit, peternak, petani, dan lain-lain. Akibatnya, kegiatan penunjang profesi seperti membaca buku, browsing di internet, mengikuti seminar, mengikuti tambahan pendidikan (kuliah ke jenjang yang lebih tinggi), tidak dapat dilakukan karena ketiadaan waktu dan biaya.

Walaupun demikian, akhir-akhir ini, rencana kenaikan gaji guru di tahun depan dan pemberian tunjangan satu kali gaji  bagi guru bersertifikat pendidik dan guru SD daerah terpencil yang telah direalisasikan cukup mampu memberikan angin segar. Bahkan barangkali akan mampu menaikkan pamor profesi guru. Mungkin suatu saat nanti angan-angan ini bisa tercapai, beberapa tahun ke depan, sudah banyak guru-guru tampil rapi-klimis. Jauh dari kesan profil guru seperti yang dinyanyikan Iwan Fals dalam lagunya “Oemar Bakri” yang bikin hati miris. Demikian pula otak para guru, dipenuhi dengan berbagai informasi ter-update dari beragam media yang dibaca seperti surat kabar dan buku, atau internet. Jauh dari kesan profil guru yang gagap teknologi dengan ilmu pengetahuan yang kadaluarsa dan tak bertambah-tambah, itu-itu saja.

Pendidikan adalah investasi terpenting suatu bangsa. Oleh karena itu, bagaimanapun nasib guru di beberapa tahun ke depan, harusnya keikhlasan dalam mengemban tugas tetap dikedepankan oleh para guru. Ini tentu saja bukan sesuatu yang gampang. Akan tetapi, mengingat betapa pentingnya peran guru dalam bidang pendidikan sebagai pengawal di garda terdepan kemajuan bangsa dan negara, maka adalah wajar jika para guru tetap menanamkan semangat pantang menyerah kepada berbagai rintangan yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas. Ayo Pak, Bu Guru….. Semangat!!! Selamat Hari Guru.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s