Mengenang Usman Harun (Bagian 1)

Masih dalam rangkaian Peringatan HUT Korps Marinir sudah sepatutnyalah kita
mengenang kembali Kisah Perjuangan dan Pengorbanan Usman dan Harun yang
berasal di KKo AL kala itu yang kini menjadi Korps Marinir.
Mereka berdua adalah legenda yang gugur menjalankan Tugas Negara.

JANATIN alias USMAN

Masa Kecil

Pada masa penjajahan Jepang, di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba Kabupaten
Purbalingga, lahirlah seorang bayi bernama Janatin, tepatnya pada hari
Minggu Kliwon tanggal 18 Maret 1943 pukul 10.00 pagi. Janatin lahir dari
keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah yang kemudian dikenal dengan
nama Usman, salah seorang Pahlawan Nasional.

Hari, bulan dan tahun berjalan terus, Janatin terus tumbuh menjadi besar dan
kemudian memasuki lingkungan yang lebih luas sesuai dengan pertumbuhannya
dan ia mulai menunjukkan identitas dirinya sebagai Janatin. Orangnya pendiam
lagi tidak sombong, memang demikian pembawaannya. Pergaulannya luas, bisa
bergaul dengan teman semua lapisan yang sebaya dengannya. Tidak merasa
rendah diri walaupun anak desa, dan tidak sombong dengan orang yang lebih
lemah dari dia, sehingga ia mempunyai teman banyak.

Sebagai kepala keluarga Haji Muhammad Ali selalu menerangkan agama sebagai
landasan hidup. Demikian pula dalam bidang pendidikan sebagai dasarnya
beliau menekankan pada pendidikan agama. Tujuannya tidak lain agar kelak
putra-putrinya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa serta tahu
membalas jasa orang tua. Karena itu tidaklah mengherankan bila putra-putri
Haji Muhammad Ali sedikit banyak mengetahui soal keagamaan dan semua dapat
membaca Al Qur’an dengan baik.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Janatin meneruskan ke SMP kota
Purbalingga, yang jaraknya kurang lebih sekitar tiga kilometer dari tempat
tinggalnya. Ia masuk di sekolah swasta SMP Budi Bhakti. Sekolah ini
merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan simpati di kalangan masyarakat
Purbalingga, karena prestasinya sejajar dengan sekolah negeri.

Walaupun Janatin dari kalangan Islam, namun tidak ada halangan dari orang
tuanya untuk memasuki sekolah tersebut. Karena tujuan masuk sekolah bukan
untuk belajar agama tetapi untuk menuntut ilmu pengetahuan yang akan
dipergunakan sebagai bekal hidup. Sedangkan masalah ilmu agama sudah
diperoleh di rumah yang diajarkan oleh orang tuanya sendiri.

Sebagai anak desa Janatin tidak lupa akan tugas yang diberikan oleh orang
tuanya, yaitu membantu orang tuanya. Ia turut bekerja untuk meringankan
beban orang tua, seperti membersihkan kebun, membantu bekerja di sawah dalam
mengolah sawahnya, kemudian turut membantu memetik hasil kebun serta
memikulnya ke rumah. Setiap hari ia membawa sabit dan menjunjung keranjang
untuk mencari makanan binatang piaraan. Pekerjaan demikian sudah menjadi
kewajiban yang dijalankan setiap hari, sehingga menjadikan dirinya seorang
yang tabah dan ulet.

Di samping itu Janatin ikut juga memperkuat olah raga bulu tangkis di
desanya. Permainan bulu tangkis ini diperoleh dari perkenalan dengan
anak-anak kota. Untuk arena permainan telah dikorbankan sepetak tanah
miliknya yang terletak di dekat rumahnya. Dengan dibukanya lapangan ini
banyak mengundang pemuda-pemuda di desanya, bahkan lebih luas lagi sampai ke
kota.

Memasuki Kehidupan Militer

Dengan dikomandokannya Trikora pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta
oleh Presiden Sukarno, mulailah konfrontasi total terhadap Belanda. Guna
menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk merebut Irian Barat, maka
pada tanggal 2 Januari 1962 Presiden/Pangti ABRI/Panglima Besar Komando
Tertinggi Pembebasan Irian Barat mengeluarkan keputusan No. 1 tahun 1962
membentuk Komando Mandala yang bertanggung jawab atas segala kegiatan
Operasi ABRI serta Sukarelawan.

Masalah Trikora berkumandang di seluruh pelosok tanah air, telah memanggil
segenap lapisan masyarakat dan membangkitkan hati semua pemuda untuk
menyumbangkan tenaga dalam pembebasan wilayah yang masih dikuasi Belanda.
Kesempatan inilah membuka pintu bagi Janatin untuk memasuki dinas militer,
seperti pemuda lainnya dari pelosok tanah air. Sehingga dalam waktu yang
singkat berbondong-bondong pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi
Sukarelawan, dan salah seorang yang terpanggil adalah Janatin.

Pada saat itu Janatin sudah menduduki SMP kelas tiga ialam kwartal terakhir.
Karena panggilan hatinya yang bergelora ingin menjadi ABRI, maka setelah
menyelesaikan pendidikan, Janatin mendaftarkan menjadi ABRI. Sebelumnya ia
memang nengagumi angkatan Bersenjata. Hal ini terlihat dari perhatian
fanatin kepada kakaknya yang berdinas di Militer. Bila kakaknya pulang,
selalu mendapat perhatian dari Janatin, baik dari pakaian seragam, sikap,
dan geraknya. Begitu pula setiap melihat anggota ABRI baik tetangga se desa
ataupun kenalan selalu menjadi perhatian baginya. pengaruh inilah yang
mengilhami dirinya sehingga ingin menjadi seorang militer.

Semula maksud Janatin tidak mendapat restu dari bapaknya, orangtuanya
mempunyai pandangan lain, menghendaki agar anaknya melanjutkan sekolah yang
lebih tinggi. Haji Muhammad Ali mengharapkan anaknya tidak memasuki dinas
militer, beliau sudah merasa cukup karena ketiga kakaknya sudah menjadi
ABRI, sedangkan Janatin biarlah mencari pekerjaan yang lain. Namun karena
kemauan keras yang tidak dapat dibendung, ia berusaha mendapatkan restu dari
ibunya. Akhirnya Janatin mendapat restu dari orangtuanya untuk memasuki
dinas militer.

Janatin pada tahun 1962 mulai mengikuti pendidikan militer di Malang yang
dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan
guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena
itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama
(Secatamko), lamanya pendidikan enam bulan dan Janatin termasuk siswa
angkatan ke – X . Setiap siswa selesai melakukan pendidikan dan latihan
pendidikan amphibi dan perang hutan. Pendidikan ini merupakan kekhususan
bagi setiap anggota Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan Calon Tamtama
dilaksanakan bertingkat. Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung
Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di
Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah
Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo. Di sinilah letaknya
pembentukan disiplin yang kuat, ketangguhan yang luar biasa, keberanian yang
pantang menyerah serta membentuk kemampuan fisik di segala medan dan cuaca,
merupakan Pembentukan Pendidikan Korps Komando Angkatan Laut. Semua
pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak
memakai baret ungu.

Berkat pendidikan dan latihan yang diperoleh selama memasuki militer,
Janatin tubuhnya menjadi tegap, kekar, pikirannya tambah jernih, korek, yang
lebih penting lagi ia terbina dalam disiplin yang tinggi, patuh, taat dan
tunduk kepada perintah atasannya.

Janatin pada bulan April 1964 dengan teman-temannya mengikuti latihan
tambahan khusus di Cisarua Bogor selama satu bulan. Mayor KKO Boedi Prayitno
dan Letnan KKO Harahap masing-masing sebagai Komandan latihan dan wakilnya.
Dalam pendidikan khusus ini dibagi dalam 13 Tim, sedangkan materi yang
diberikan antara lain: Inteljen, kontra inteljen, sabotase,Demolisi,
gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua
ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nanti.

TOHIR alias Harun

Masa Kecil

Sekitar 15 kilometer sebelah utara kota Pahlawan, Surabaya, tampaklah dari
kejauhan sebuah pulau kecil yang luasnya kira kira 4 kilometer persegi. Di
pulau ini terdapat tempat yang dianggap keramat, karena di pulau inilah
pernah dimakamkan seorang kyai yang sangat sakti dan terkenal di masa itu,
yaitu Kyai Bawean. Sehingga tempat yang keramat ini terkenal dengan nama
Keramat Bawean.

Pada saat tentara Jepang menginjakkan kakinya di Pulau Bawean tanggal 4
April 1943, lahirlah seorang anak laki-laki yang bernama Tohir bin Said.
Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani, yang kemudian
terkenal menjadi Pahlawan Nasional dengan nama Harun.

Sejak dibangku Sekolah Dasar ia tertarik dengan kulit-kulit kerang yang
terdampar di pasir-pasir tepian pantai daripada memperhatikan pelajaran di
sekolah, hal ini akibat seringnya Tohir pergi ke pantai laut. Perahu-perahu
yang setiap hari mencari nafkah di tengah-tengah lautan, merupakan daya
tarik tersendiri bagi Tohir. Dengan jalan mencuri-curi ia sering menyelinap
ikut berlayar bersama perahu-perahu nelayan ke tengah lautan. Bahkan ia
sering tidak masuk sekolah ataupun pulang ke rumah, karena mengikuti
perahu-perahu layar mencari ikan di tengah laut beberapa hari lamanya.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, tanpa sepengetahuan keluarganya, ia
berhasil melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di
Jakarta sampai mendapatkan ijazah. Sejak ia menginjak bangku Sekolah
Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal
dagang, di samping itu tetap rajin belajar mengikuti pelajaran-pelajaran di
sekolahnya dengan jalan mengutip kawan-kawannya.

Ia telah menjelajahi beberapa Negara, tetapi yang paling dikenal dan hafal
daerahnya adalah daratan Singapura. Kadang kadang ia berhari-hari lamanya
tinggal di Pelabuhan Singapura. Dan sering pula ia ikut kapal mondar-mandir
antara Singapura – Tanjung Pinang.

Seorang pemuda Tohir tidak terlepas dari persoalan dunia percintaan. Pada
masa remaja kira-kira umur 21 tahun ia pernah jatuh cinta dengan seorang
gadis idaman hatinya yang bernama Nurlaila.

Tanpa diketahui oleh Samsuri kakak sulungnya sebagai pengganti ayahnya yang
sudah meninggal, Tohir dan gadis tersebut telah sepakat untuk kemudian hari
membina suatu rumah tangga yang bahagia. Sebagai tanda janjinya gadis
tersebut dilingkarkan cicin emas di jari manisnya.

Setelah mendengar kabar, bahwa gadis idaman yang pernah ditandai cincin akan
melangsungkan perkawinan dengan seorang pemuda pilihan orang tua sang gadis,
Tohir merasa tersinggung. Pada saat di rumah sang gadis sedang
ramai-ramainya tamu dan kedua mempelai sudah hampir dihadapkan penghulu,
tiba-tiba Tohir dan kawan-kawannya datang menghentikan Upacara perkawinan.
Dengan nada marah-marah, ia bersikeras menghendaki agar Upacara perkawinan
itu dibatalkan.

Karma penghulu mendapat ancaman dari Tohir, akhirnya lari ke rumah kakaknya
yang dekat tempat Upacara perkawinan bekas pacar Tohir di Jalan Jember
Lorong 61 Tanjung Priok, minta tolong untuk mencegah tindakan Tohir.
Akhirnya Samsuri terpaksa ikut campur dalam masalah perkawinan ini. Ternyata
setelah diusut, barulah diketahui bahwa gadis tersebut secara diam-diam
dengan Tohir melakukan tunangan.

Sebagai seorang anak yang menghormati orang tua maupun saudaranya yang lebih
tua, akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan kakaknya untuk mengurungkan
niatnya, tapi dengan syarat barang-barang perhiasan dan uang yang sudah
diberikan kepada gadis tersebut dikembalikan. Sampai saat ini gadis tersebut
masih hidup rukun dengan suami dan anaknya, di bilangan Tanjung Priok.

Memasuki Dunia Militer

Dalam Tim Brahma I dibawah Letnan KKO Paulus Subekti Tohir memulai kariernya
sebagai anggota KKO AL. Ia mulai masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan
ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu
dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga
pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan
bersama sama.

Setelah Tohir memasuki Sukarelawan ALRI, yang tergabung dalam Dwikora dengan
pangkat Prajurit KKO II (Prako II) dan mendapat gemblengan selama lima
bulan, di daerah Riau daratan, pada tanggal 1 Nopember 1964. Kemudian pada
tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur
bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu. Hingga beberapa
lamanya rombongan Tohir dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kesatuan A
KOTI Basis X melaksanakan tugas di Pulau Sambu. Tohir sendiri telah ke
Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai
pelayan dapur, ia ke sana menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke
Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.

Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam
penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar
telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di
tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

PERTEMUAN USMAN HARUN DALAM OPERASI DWIKORA

Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam
mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru
yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya
Dwikora oleh Presiden Sukarno pada tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta. Komando
tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat . termasuk ABRI. Hal ini
terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai
sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan.

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari
segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan
dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan.
Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan
itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan
sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang. Jika Sukarelawan itu
tertangkap oleh lawan, resikonya disiksa secara kejam.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk
mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi
sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia
di daerah musuh.
Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri
dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka
diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan
mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di
daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV).
Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I
beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan
tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:

1. Sub Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran
Singapura.
2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung
Balai.
3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri
Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.

Sedangkan Tugas Basis II:

1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah
masing-masing.
3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
5. Mengumpulkan informasi.
6. Melakukan kontra inteljen.

Dalam operasi ini Janatin/Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti,
ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal
jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan
Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol
KKO – AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau
Sambu Riau. Ketika Usman menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan
dengan Harun dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab
dalam pergaulan. Dalam tim ini Usman dan Harun mendapat tugas yang sama
untuk mengadakan sabotase di Singapura.

Meskipun Usman bertindak sebagai Komandan Tim dan usianya sedikit lebih tua
dari Harun, demikian pula ia lebih banyak berpengalaman dalam bidang
militer, tetapi ia mengakui masih kurang pengalaman dalam wilayah Singapura.
Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya di Singapura, ia lebih banyak
memberikan informasi kepada Usman. Harun telah hafal betul tentang keadaan
dan tempat-tempat di Singapura, karena Harun pernah tinggal di sana. Tetapi
sebagai seorang militer, mereka masing-masing telah mengetahui apa
tugas-tugas mereka sebagai Komandan dan bawahan.

Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya
jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan
barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut
kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota
sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh
petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya. Dari
penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para
Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para
Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah
musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para
sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan
nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti
namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji
Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji
Muhammad Ali.
Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin
Said. Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan
ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian
tempat-tempat
yang dianggap penting.

Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap
saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini
terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para
Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan
bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di
daerah perbatasan.

Lanjut ke Mengenang Usman Harun (Bagian 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s