Kena SUPERTRAP

SUPERTRAP

Sabtu siang, seharusnya hari yang enak buat siapin libur, apalagi hujan deras yang ga berhenti dari pagi. enaknya browsing atau tiduran. Tiba-tiba .. Tring.. bunyi HP Nokia jadul, dibuka ada SMS,

“Lur dadakan, wayahna ka MI … jam setengah 3, berkaitan dengan FTHMI”

Karena penasaran, langsung balas tuh SMS nanyain acaranya, ga lama ada balasan udah datang aza katanya harus ada perwakilan tiap sekolah. Karena yang SMS ketua Korcam, akhirnya dipaksain datang soalnya atas nama FTHMI… Setengah jam kemudian, dengan pakaian batik hadiah panitia Pilkades, nyalain supra fit kuning, modal jas hujan dan celana yang digulung karena hujan masih deras, meluncurlah ke TKP menembus derasnya hujan.

Skip…skip…

Sekitar 50 meter dari lokasi yang dituju tiba-tiba ada hal ganjil yang terlihat, nampak berjejer mobil jenis van… mulai timbul tanda tanya… dan dalam hati udah mulai berkata:” Kok aneh ya, pertemuan guru honor kok banyak mobil, biasanya kalau guru honor kan yang berbaris di parkiran itu motor bebek atau paling banter matic kreditan yang belum lunas.

Tapi rasa curiga itu ditepis, karena tanggung dah deket, langsung parkir.. turun dari parkir di sambut temen yang SMS tadi. Begitu sampai ke tempat pertemuan makin aneh karena banyaknya orang yang ga dikenal, jelas terlihat dari sosoknya bukan guru. Terlihat juga beberapa orang mengenakan pakaian dari salah satu partai peserta pemilu 2014, salah satu partai yang berasal dari ormas Islam. Mulai tuh Jleb…Deg… wah kena Supertrap deh, ternyata acara partai.. padahal paling malas kau ada kumpul-kumpul partai. Karena jauh-jauh dah datang, dan mau pulang hujan deras, terpaksa deh masuk ke ruangan.

Di dalam ruangan nampak beberapa orang sudah menunggu, tapi lagi-lagi engga ada satupun dari rekan guru  yang  dikenal, kecuali tuan rumahnya. Setelah sekitar 15 menit nunggu, acara dimulai, pembawa acara pun langsung mengucap salam. Salam belum di jawab,tiba-tiba terdengar suara adzan Ashar dari masjid sebelah, yang kebetulan hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempat pertemuan. Keganjilan  mulai muncul, walaupun adzan sedang berkumandang tapi si pembawa acara tetap berbicara. Dan pembawa acara juga salah satu caleg di DPRD Kabupaten, yang juga pernah belajar di beberapa pondok pesantren.

“Barangsiapa yang mendengar suara adzan kemudian dia berucap: Asyhadu alla ilaaha illahu wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, radlitu billahi rabba wabi muhammadin rasulan wabil islami diinan (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai Rasul dan aku ridha Islam sebagai agama), maka Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Muslim (579) dari Sahl bin Sa’ad)

Salah satu dalil yang pernah saya baca, tapi mungkin dia lupa, atau karena keadaan darurat sehingga acara tetap dilanjutkan. Padahal Para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Ishaq bin Rahuyah, dan lainnya mengatakan makruhnya berbicara ketika terdengar adzan. Namun jika keadaan mendesak untuk berbicara, maka tidak mengapa berbicara seperlunya. Dan hendaknya tidak memperpanjang pembicaraan sehingga terluput dari memperoleh keutamaan yang besar yaitu pengampunan dosa-dosa.

Yang huruf miring mungkin jadi pegangan bagi pembawa acara.

Acara di lanjut, kini giliran caleg DPR RI berbicara (konon dia jebolan pesantren juga) … Bla…bla…bla.. Wuih… ujung-ujungnya minta di bentuk korcam tim suksesnya.. katanya ada uang lelahnya.. SKip..SKip… Jam sudah menunjukan jam 5, acara belum selesai juga.. Dalam hati udah mulai berontak karena belum Sholat Ashar, mikir juga nih orang-orang kapan sholatnya ya? padahal mereka semua dari tim sukses salah satu partai bentukan ormas Islam. Hanya mengusap dada, sambil beristighfar, segitu pentingnya jabatan buat mereka sehingga mereka melupakan Allah, tidak kah mereka malu bernaung di dalam partai Islam tapi menyepelekan pondasi Islam, yaitu Sholat, ya walaupun mungkin mereka akan sholat setelah acara selesai, tapi bagi saya pribadi mereka kan calon wakil rakyat, calon pemimpin rakyat, seharusnya mereka memberi contoh yang baik bagi rakyat seperti saya ini, apa salahnya menghentikan rapat sekitar 5-10 menit untuk shalat. Lalu saya berfikir belum jadi saja seperti ini, kalau udah jadi bagaimana??? Tapi terlepas dari mereka jadi atau tidak jadi Dewan bagi saya, semoga mereka kembali ke jalan yang benar, bisa menerapkan ilmu yang diraihnya saat di pondok pesantren, dan memberi tauladan bagi masyarakat sekitarnya.. Dan saya yakin sekali bahwa ilmu mereka lebih dari karena saya tidak mengenyam pendidikan di pesantren, sehingga saya tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Back to cerita, Karena ga selesai2 acara, akhirnya saya langsung keluar saat jam 5 lewat untuk sholat, dah sholat langsung pulang sementara acara belum selesai juga.

Catatan : Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan salah satu partai atau salah satu caleg, tulisan ini murni hanya untuk menceritakan kejadian sebenarnya yang saya alami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s